Malang Raya adalah daerah paling istimewa di muka bumi ini. Mulai dari wisatanya, kulinernya, sejarahnya, tokoh-tokohnya, pendidikannya, seni dan budayanya, dan sebagainya. Semua keistimewaan itu ada di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu yang bersatu di kawasan Malang Raya. Belum lagi jika melihat potensi sepakbolanya yang ada pada Arema dan lain-lainnya. Nikamt dunia apa lagi dari-Nya yang Anda dustakan? Salam Satu Jiwa!

PANTAI DI MALANG

COBAN DI MALANG

KECAMATAN DI KOTA MALANG

COBAN SUPIT URANG (PUJON)


Malang selalu memiliki tempat wisata alam yang cantik dan alami, cocok untuk melepas penat dalam pikiran. Salah satu tempat yang menarik sekaligus memacu adrenalin adalah Coban Supit Urang.

Coban Supit Urang terletak di Dusun Sumbermulyo, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Masih satu area dengan Coban Watu Talang.

Untuk menuju ke Coban Supit Urang, dari arah Kota Malang Anda bisa mengikuti petunjuk ke Kota Batu. Kemudian, lanjutkan ke jalur menuju Kediri atau Jombang sampai masuk Kecamatan Pujon. Tak jauh setelah melewati Taman Makam Pahlawan (sisi kiri jalan), terdapat sebuah gang menuju Desa Madiredo. Jangan khawatir, di sudut gang disediakan papan petunjuk yang akan memudahkan Anda melanjutkan perjalanan ke lokasi.

Jika di tengah perjalanan Anda merasa bingung dengan akses jalan, jangan ragu untuk bertanya. Warga sekitar akan dengan ramah membantu Anda.

Coban Supit Urang ini belum dibuka secara resmi. Selama ini masih dikelola oleh Komunitas Puncara yang terdiri atas warga lokal, pejabat desa, penggiat lingkungan serta pihak Tahura R. Soejo. Ada beberapa fasilitas yang ditawarkan dari wisata ini, seperti Camping Ground, Trekking, Air Terjun, dan Perkebunan.

Camping ground yang ditawarkan cukup menjanjikan. Selain karena lokasinya di wilayah terpencil, cukup jauh dari perkampungan, juga berada di bawah tiga air terjun sekaligus, yakni Supit Urang Bawah, Supit Urang Atas, dan Watu Talang. Dari lokasi perkemahan, Coban Supit Urang Bawah bisa ditempuh sekitar 10 menit berjalan kaki.

Anda akan mendapati hamparan tebing berbentuk unik membentengi air terjun, yang seolah jatuh membelah bagian tengah tebing bebatuan. Warga sekitar menyebut tebing ini sebagai Watu Gedhek (anyaman bambu untuk dinding).

Di sisi kanan coban terdapat sebuah tangga dari bambu setinggi kurang lebih 12 meter yang menjadi akses menuju Coban Supit Urang Atas. Tak banyak pengunjung yang berani melewati tangga yang tinggi dan sangat sederhana ini. Inilah yang menjadi salah satu tantangan di Coban Supit Urang.

Coban Supit Urang Atas hanya berjarak 10 meter. Berbeda dengan Coban Supit Urang Bawah, aliran air di sini merambat, melebar di bagian ujung kolam. Terdapat sebuah cekungan yang menjadi asal muasal penamaan coban ini, ya, Supit Urang. Cekungan tersebut menyerupai "supit urang" atau "capit udang" jika dilihat dari atas tebing.

Bagaimana, sangat menantang bukan? Anda bisa uji adrenalin di Coban Supit Urang ini tanpa perlu menguras kantong. Sekedar info, sejauh ini belum diberlakukan retribusi tiket masuk, hanya ada tarif parkir kendaraan sebesar 2.000 rupiah saja.

COBAN TUNDO (SUMBERMANJING WETAN)


Rindu dengan suara gemercik air jernih yang tumpah dari atas bebatuan tinggi? Coban Tundo bisa jadi salah satu destinasi yang mengobati kerinduan Anda tersebut.

Ya, Coban Tundo merupakan air terjun yang baru-baru ini hadir sebagai primadona di Malang. Karena masih terbilang destinasi baru, jadi belum banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Eksisnya Coban Tundo bermula dari beberapa pengguna media sosial yang membagikan foto-foto betapa indah dan menariknya coban ini.

Jika kebanyakan coban atau air terjun ada di wilayah Malang bagian utara, maka lain halnya dengan Coban Tundo yang terletak di Malang bagian selatan. Lokasi coban ini tepatnya berada di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Kira-kira jaraknya 134 km dari Kota Malang.

Rute yang harus Anda lewati dari arah Kota Malang yaitu Kecamatan Bululawang, Turen, kemudian ke Sumbermanjing Wetan, mengikuti arah ke Sendang Biru. Anda juga dapat lewati dua jalur alternatif lainnya, pertama lewat Desa Kedung Banteng, dan yang kedua lewat Desa Klepu dan Desa Sukodono, Kecamatan Dampit.

Apabila Anda ingin berpelesir ke Coban Tundo, sebaiknya Anda menaiki sepeda motor kopling (gigi) dikarenakan jalannya yang cukup terjal, selain itu mobil tidak bisa masuk hingga ke lokasi wisata, jadi harus dititipkan ke rumah warga yang memiliki halaman luas.

Setelah memarkirkan mobil di rumah warga, Anda masih harus berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang jaraknya lumayan jauh. Namun jika Anda mengendarai sepeda motor, Anda dapat melanjutkan perjalanan hingga ke tempat parkir motor. Jika tak kelelahan akibat jalan kaki, Anda pun bisa menyewa jasa ojek yang siap mengantar ke Coban Tundo hingga pulang kembali ke parkiran mobil, harga yang ditawarkan sekitar Rp 30-50 ribu.

Setibanya di area parkir motor, Anda harus berjalan kaki ke lokasi kira-kira lima menit melewati kebun kopi menuju Coban Tundo. Coban ini terbagi menjadi tiga berdasarkan jumlah air terjunnya, yaitu Coban Tundo Siji, Loro, dan Telu.

Di Coban Tundo Siji, Anda bisa berenang di bawah air terjun karena cekungan yang ditimbulkan memiliki kedalaman hingga dua meter. Terdapat beberapa pohon besar yang melindungi pengunjung dari sengatan sinar matahari.

Di bawah Coban Tundo Siji terdapat air terjun lagi yaitu Coban Tundo Loro. Jika Anda masih memiliki sisa tenaga, tak ada salahnya untuk menikmati keindahan Coban Tundo Loro.

Anda harus berjalan kaki naik dan turun bukit selama kurang lebih 10 menit dari Coban Tundo Siji. Di dekat cekungan terdapat sebuah tangga yang tingginya sekitar tiga meter yang harus Anda turuni. Sama seperti di Coban Tundo Siji, di Coban Tundo Loro Anda juga diperbolehkan berenang. Namun kedalaman di sini lebih dalam, yaitu sekitar tujuh meter. Jika Anda tidak cukup mahir berenang, lebih baik menikmati pemandangan coban dari permukaan tanah. Di sini juga disediakan penyewaan ban yang harganya cukup murah yaitu 5000 rupiah.

Terakhir adalah Coban Tundo Telu, yang letaknya di bawah Coban Tundo Loro. Anda perlu berjalan kaki kira-kira 10 menit lamanya. Coban yang satu ini adalah yang paling tinggi daripada coban lainnya. Cekungan (kolam) di Coban Tundo Telu sangat kecil namun sangat dalam, di sini tidak ada yang mengawasi jadi Anda harus berhati-hati.

Bahkan baru-baru ini, ada kasus dua wisatawan yang tenggelam di Coban Tundo Telu. Mereka berasal dari Jember dan Tulungagung. Peristiwa tersebut terjadi akibat keduanya mengabaikan larangan untuk memasuki area Coban Tundo Telu saat curah hujan tinggi. Jadi, Anda tetap harus waspada dan mengutamakan keselamatan dengan mematuhi peringatan dari pemandu wisata setempat.

COBAN RAKSASA (PONCOKUSUMO)


Anda pernah mendengar nama Coban Raksasa? Ya, sebuah wanawisata yang terletak di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini terkenal selain karena keindahannya, juga karena perjalanan menuju ke sana yang memacu adrenalin kita. Anda bisa melalui jalur pendakian menuju Gunung Bromo dari arah Tumpang atau sebelah timur dari Kota Malang untuk mencapai Desa Ngadas.

Coban yang berada di kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) itu memiliki ukuran yang benar-benar sangat besar, sesuai dengan namanya. Ketinggiannya mencapai 250 meter. Debit airnya yang jatuh dari aliran Sungai Amprong lebih dari 450 liter per detik. Menariknya, ada dua air terjun di Coban Raksasa ini. Pada bagian pertama, ketinggiannnya kurang dari 25 meter. Sementara, pada bagian selanjutnya, ketinggiannya mencapai 200 meter lebih. Saking besar aliran air dan tingginya air terjun yang jatuh, suaranya bisa terdengar dari radius yang cukup jauh. Keberadaan coban ini bahkan sudah bisa terlihat dari kejauhan di antara hutan pinus yang rimbun mengelilinginya.

Untuk menikmati panorama yang ada di Coban Raksasa ini tidaklah mudah. Dibutuhkan perjuangan ekstra keras untuk bisa mencapai lokasi caban ini, karena Anda diharuskan berjalan kaki sejauh tujuh kilometer dari perkampungan warga. Waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar empat jam bakal terbayar lunas oleh ketakjuban Anda sejak dalam perjalanan yang menyajikan pemandangan alam sekelilingnya. Selain keindahan alam pegunungan, Anda juga akan bisa merasakan betapa sejuk dan dinginnya hawa yang ada di sana.

Objek wisata ini sangat cocok bagi para petualang sejati. Namun Anda tidak cukup hanya mengandalkan kemauan keras untuk menuju coban ini. Anda harus berbekal peralatan hiking yang lengkap untuk membantu perjalanan Anda. Selain itu, Anda yang ingin menikmati Coban Raksasa harus memiliki kondisi tubuh yang benar-benar fit dan memiliki stamina ekstra, karena medannya sangat berat dan menantang.

Cerita perjalanan Anda akan dimulai dari lahan pertanian penduduk yang berbatasan dengan hutan belantara. Begitu sampai di ujung perbatasan ini, Anda diharuskan menitipkan kendaraan Anda pada penduduk, karena memang jalan menuju Coban Raksasa tidak bisa dilalui oleh sepeda motor sekalipun. Selain terjal, medan menuju coban itu kondisi jalanannya menurun menyisiri jalan setapak di antara tanaman pohon pinus. Jangan khawatir, karena lelah Anda selama perjalanan akan terobati oleh panorama alam di sisi kiri dan kanan jalan setapak yang dilewati. Terbentang pegunungan di antara rerimbunan pohon pinus. Silakan berhati-hati saat menuruni jalan setapak ini, karena jalan setapaknya memiliki kemiringan cukup tajam dan juga licin. Bahkan, di beberapa titik, Anda harus menggunakan bantuan tali untuk melalui jalanan tersebut.

Setelah melintasi jalanan yang menantang ini selama 1,5 jam, Anda akan disambut dengan suara air terjun. Anehnya, beberapa saat kemudian, entah mengapa suara itu menghilang. Sebelum Anda berpikir lebih lama, terlihat lah penampakan Coban Raksasa dari kejauhan di antara rerimbunan hutan pinus. Semakin dekat langkah Anda, suara air terjun ini akan terdengar semakin besar. Namun anehnya, jatuhnya air terjun tak bisa terlihat jelas, meski Anda mencoba melihatnya dari berbagai sudut.

Perjalanan berlanjut ke tempat di mana air terjun terjatuh ke Coban Raksasa ini. Namun, Anda harus makin waspada, karena medan yang akan dilalui semakin berat. Selain jalan setapaknya yang menurun dan licin, makin banyak sekali jalanan terputus, sehingga Anda membutuhkan tali dan akar pohon di kawasan hutan ini sebagai alat bantu. Akar pohon yang tumbuh melintang sepanjang satu hingga sepuluh meter akan sangat membantu di tengah perjalanan Anda.

Setelah menghabiskan waktu empat jam untuk menaklukkan medan yang sulit, Anda akan sampai di aliran sungai dari coban yang masih belum terjamah ini. Ketinggian air sungai hanya selutut orang dewasa. Namun, jika Anda berkunjung di musim hujan, airnya akan menjadi setinggi paha, lebih keruh dan sewaktu-waktu debit air bisa bertambah tinggi, tergantung curah hujan yang di terjadi di bagian hulu sungai. Aliran sungai yang berasal dari Coban Raksasa inilah satu-satunya jalan untuk mencapai tempat jatuhnya air terjun. Di penghujung perjalanan ini Anda tetap harus waspada terhadap hempasan angin di sekitar coban yang sangat kencang. Namun saat tiba di Coban Raksasa, dijamin Anda akan lupa bagaimana rasanya kecewa.

COBAN PELANGI (PONCOKUSUMO)


Bicara tentang obyek wisata alam di wilayah Malang Raya memang tak pernah ada habisnya. Selalu ada tempat yang menunggu untuk dikunjungi. Seolah-olah, alam memiliki magnet untuk menarik kita agar mau berkunjung dan menyapa keramahannya. Akan tetapi, tak banyak orang yang tahu mengenai keindahan alam di Malang yang luar biasa. Misalnya saja seperti keindahan alam di Coban Pelangi, sebuah wisata air terjun yang berada di bagian timur Kabupaten Malang.

Perlu kita ketahui, bahwa air terjun yang indah nan mempesona ini merupakan salah satu wilayah konservasi alam di bawah perlindungan Perum Perhutani KPH Malang. Maka tak heran jika kondisi alamnya masih sangat alami. Air terjun ini belum tersentuh oleh tangan-tangan jahil manusia.

Air terjun ini kondang di kalangan para pendaki Gunung Semeru, karena memang letaknya yang berada di jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Letaknya berada di kawasan pegunungan yang cukup curam dan berliku dengan kemiringan di atas 45 derajat, berada pada 8,0109 derajat LS; 112,8607 derajat  BT; dan di ketinggian 1.299,5 mdpl.

Di samping itu, Coban Pelangi juga dikelilingi oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Lokasi persisnya yaitu berada di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jika dari Kota Malang jaraknya sekitar 32 km ke arah timur, dan jika dari Kecamatan Tumpang berjarak sekitar 10 km.

Memang diperlukan usaha ekstra keras dalam menaklukan medan yang cukup menantang adrenalin supaya dapat menyaksikan dari dekat keindahan Coban Pelangi. Oleh karena itu, sebelum menuju ke tempat wisata ini, fisik Anda harus benar-benar dalam keadaan prima agar tak mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dalam perjalanan. Terlebih lagi, suhu udara di tempat ini antara 19-23 derajat Celcius, dibutuhkan ketahanan diri yang kuat.

Nah, agar dapat sampai ke Coban Pelangi ini, Anda bisa menjadikan papan petunjuk di sepanjang jalan sebagai patokan. Anda juga dapat berpatokan pada jalur menuju Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Dalam perjalanan, Anda akan melewati kawasan tanjakan bukit kurang lebih selama 15 menit dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Setelah itu, silakan menyusuri jalur di atas anak sungai.

Air terjun yang mengalir di Coban Pelangi berasal dari sebuah tebing batu dengan ketinggian sekitar 30 meter. Adapun fasilitas yang disediakan untuk para pengunjung di tempat wisata ini, seperti adanya sebuah pondok. Ya, di pondok tersebut para pengunjung dapat menikmati indahnya tumpahan air dari atas tebing, ditambah lagi dengan pemandangan sekitar yang hijau menyegarkan mata. Apabila Anda beruntung, fenomena bias pelangi dari pucuk-pucuk tebing bisa memanjakan mata Anda. Fenomena itulah yang menjadi asal muasal penamaan air terjun ini.

Berdasarkan data terbaru, harga tiket masuk di tempat wisata ini adalah Rp 6.000.-. Sementara untuk tiket parkir, pengunjung ditarik Rp 2.000.- untuk kendaraan roda dua dan Rp 4.000.- untuk roda empat. Cukup terjangkau, bukan?

GOA COBAN PERAWAN (GEDANGAN)


Pernah dengar nama Goa Coban Perawan? Ya, menyusuri goa yang terletak di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang ini memang memang menyajikan pengalaman yang menantang ketika berhasil menaklukkannya.

Dulunya, goa ini hanya bernama Goa Coban. Bernama demikian lantaran di dalam goa ini terdapat aliran air yang membentuk sungai. Di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit yang berbentuk unik. Entah mengapa, akhirnya muncullah kata Perawan di belakang nama Goa Coban, dan sampai sekarang lebih dikenal dengan nama Goa Coban Perawan.

Sejatinya, keberadaan Goa ini sudah diketahui warga desa setempat sejak puluhan tahun silam. Hanya saja, belum banyak orang yang mau berkunjung atau mempromosikannya sebagai tempat wisata. Hingga akhirnya, kedatangan sebuah tim ekspedisi yang menjelajahi Goa ini mengubah segalanya. Mereka sukses menjadi pelopor dan berhasil mengundang rasa penasaran beberapa wisatawan, termasuk dari mancanegara untuk datang berkunjung ke goa ini.

Goa yang memiliki panjang 200 meter ini kondisinya masih terjal dan penuh dengan bebatuan. Hal ini memaksa pengunjung harus ekstra konsentrasi saat melewatinya. Menariknya, goa ini juga merupakan jalur Sungai Coban Perawan, sehingga tak heran jika masih terdapat air sungai yang mengalir atau bahkan menggenang sepanjang goa.

Sebelum melakukan penjelajahan, Anda harus membayar tiket masuk sebesar 100 ribu rupiah. Harga tiket sudah termasuk fasilitas berupa peralatan penjelajahan lengkap, pemandu wisata dan es kelapa muda segar. Peralatan penjelajahan lengkap seperti helm, pelampung standart, dan sepatu sangat dibutuhkan untuk menjelajah Goa Coban Perawan.

Setelah menggunakan alat pelindung lengkap, Anda bakal diarahkan untuk melewati Goa Jenggot, sebagai jalan masuk menuju ke Goa Coban Perawan. Pemandu wisata akan terus mendampingi dan memudahkan perjalanan pengunjung dalam menyusuri goa tersebut. Setelah melewati tantangan goa ini, sumur jernih akan menyambut para pengunjung. Meski cukup dalam, Anda bisa berendam sesuka hati di sumur yang terletak dalam Goa Kelenteng ini. Goa tersebut merupakan jalur terakhir penjelajahan Goa Coban Perawan.

Goa yang masih belum banyak dijamah pengunjung ini terletak di antara perbatasan Dusun Bajulmati dan Dusun Umbulrejo, Kecamatan Gedangan. Dari Kota Malang, Anda harus menempuh rute Kota Malang-Turen-Sendang Biru-Bajulmati dengan jarak sekitar 75 kilometer.

COBAN RAIS (BATU)


Selain Coban Rondo dan Coban Talun, Kota Wisata Batu memiliki wanawisata air terjun lainnya yang tak kalah segarnya, seperti Coban Rais. Air terjun ini berada di ketinggian sekitar 1.025 meter di atas permukaan laut di lereng Gunung Panderman.

Pada zaman dahulu, coban ini bernama Coban Sabrangan, karena memang jika hendak ke coban ini harus menyebrang melintasi 14 sungai. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, coban memiliki arti air terjun, sedangkan Rais diambil dari nama salah seorang penduduk desa setempat.

Pagi hari merupakan waktu terbaik jika ingin mengunjungi air terjun yang memiliki tinggi 20 meter ini. Namun, Anda sangat tidak disarankan untuk mengunjungi Coban Rais saat musim hujan.

Sebelum menuju ke lokasi air terjun, Anda lebih dulu harus menitipkan kendaraan di area parkir yang cukup luas. Area ini dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang berjualan makanan seperti cilok, sempol, bakso, es buah, rujak manis, dan lain-lain. Setelah puas mengisi perut di tempat ini, lanjutkan perjalanan melalui jalan makadam sesuai dengan petunjuk yang ada menuju lokasi coban. Suasana jalan setapak yang dikelilingi pepohonan dan rerumputan ini cukup ramai ketika kebetulan bebarengan dengan serombongan anak-anak sekolah yang sedang melakukan kegiatan alam.

Perjalanan melewati jalan tanah mendatar di antara aneka tetumbuhan yang beragam jenis banyak tumbuh di sekitarnya ini sangat menyenangkan. Tampak warna hijau khas dedaunan yang menjadi pemandangan menarik di tempat ini. Dari kejauhan, tampak pula beberapa bukit yang cukup tinggi menjulang dengan hiasan rindang hijau aneka tumbuhan. Ada pula semacam sungai kecil di sisi jalan. Sungai ini sepertinya memang sengaja dibuat untuk mempermudah kebutuhan warga akan air segar. Selain itu, terdapat pula beberapa pipa-pipa besi yang sebagian menyembul keluar di antara jalan setapak.

Di tengah perjalanan jalur setapak yang Anda lewati akan berubah, dari yang semula mudah dilewati, menjadi jalan setapak sempit yang agak susah dilewati karena kondisinya yang sedikit menanjak. Rimbunnya pepohonan akan menambah rintangan menaklukkan jalur ini. Teriknya matahari yang menyengat harus Anda atasi pula. Kicauan burung dan aneka serangga yang banyak berseliweran di sana-sini bakal jadi sedikit hiburan melepas lelah.

Ketika tiba di balik sebuah gundukan tanah yang tinggi, jangan kaget melihat jalan setapak dengan tingkat kemiringan sekitar 45 derajat terpampang di hadapan Anda. Coba hela napas sejenak untuk mengumpulkan tenaga, lalu lanjutkan petualangan menembus belantara wisata alam Coban Rais. Kali ini perjalanan lebih adem, karena dinaungi rindangnya pepohonan di kiri-kanan jalan. Selanjutnya, Anda akan melewati dam (bendungan kecil) yang bisa dimanfaatkan untuk istirahat sejenak demi menghimpun sisa-sisa tenaga yang dipunya, karena terdapat sebuah tanah lapang dan rindang penuh pepohonan.

Perjalanan dilanjutkan dengan mulai merasuknya udara dingin menyejukkan. Jalanan mendaki masih mendominasi perjalanan, hanya saja suara gemericik air yang mengalir terdengar samar. Jalan satu-satunya menuju ke Coban Rais adalah dengan melewati sungai kecil yang airnya terasa begitu dingin. Perjalanan yang melelahkan, cukup menguras energi dan kekuatan fisik dengan menaklukkan tikungan dan tanjakan hutan belantara ini akhirnya berakhir di hadapan sebuah air terjun yang cukup tinggi.

Air terjun yang mengalir dari atas ini cukup deras melalui bebatuan di antaranya. Sebagian air yang menerpa dataran kecil di tengah-tengah air terjun menimbulkan cipratan embun yang begitu sejuk. Sebagian air lagi baru jatuh ke dasar air terjun. Tepat di bawah air terjun, tepatnya sekitar lima meter dari kolam tempat dasar air terjun terdapat seonggok pohon besar yang tumbang melintang. Kolam kecil di bawah air terjun tampak sengaja dibendung dengan tumpukan kayu agar air tidak meluas.

Coban Rais terletak di Jalur Lingkar Barat (Jalibar), tepatnya di Dusun Dresel, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Anda bisa menempuh rute dari Terminal Batu menuju ke arah Studio Batu TV di desa Dresel. Selanjutnya, perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan setapak yang relatif landai, melewati hutan dan menyusuri sungai yang memakan waktu sekitar 30 menit. Di dalam perjalan ini Anda akan menemukan persimpangan, pilih sebelah kanan.

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, dari Kota Malang silakan naik angkot menuju Terminal Landungsari, seperti AL, ADL, LDG, LG, CKL, dan GL. Selanjutnya berganti kendaraan dengan naik mikrolet angkutan desa jurusan Malang-Batu melalui Desa Oro-oro Ombo.

Untuk masuk ke area Coban Rais ini, Anda harus membayar tiket masuk dengan harga 5.000 rupiah. Sementara untuk biaya parkir motor, Anda harus merogoh kocek sebesar 2.000 rupiah saja.

COBAN PARANG TEJO (DAU)


Anda ingin melihat fenomena munculnya air terjun di balik air terjun? Rasanya cocok sekali jika Anda berkunjung ke Coban Parang Tejo di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini.

Coban Parang Tejo memiliki ketinggian sekitar 100 meter dengan kucuran air yang halus. Air terjun ini terletak di lereng Gunung Butak yang membentuk aliran Sungai Metro di perbatasan Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu yang mengalir hingga Kabupaten Blitar.

Selain menyuguhkan sensasi pemandangan air terjun berlapis dan kelembutan alirannya, coban ini juga menyajikan adanya penampakan warna-warni pelangi. Biasanya, pemandangan itu terjadi pada saat musim kemarau dalam kondisi matahari tengah terik. Biasan sinar matahari oleh percikan air terjun yang halus menciptakan saputan melengkung spektrum warna-warni. Karenanya air terjun ini pun dinamai Parang Tejo. Parang bermakna tebing, sedangkan Tejo bermakna pelangi.

Suasana di sekitar Coban Parang Tejo ini pun tergolong masih sangat alami dan perawan. Kawasan ini bisa dibilang sebagai keindahan surga yang tersembunyi di balik keramaian kota. Terlebih, untuk menikmati pesona alam yang indah ini, Anda tak perlu mengeluarkan biaya alias masih gratis.

Wanawisata Coban Parang Tejo ini terletak di Dusun Princi, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Berjarak sekitar 20 km dari Kota Malang atau 21 km dari Kota Batu. Dari objek wisata Bedengan hanya sejauh satu kilometer ditempuh dengan berjalan kaki melalui hutan lindung.

Untuk mencapai obyek wisata ini, Anda disarankan menggunakan kendaraan pribadi, karena memang tidak ada angkutan umum yang menuju kawasan ini. Anda tak perlu khawatir mengenai kondisi jalan menuju lokasi Desa Gadingkulon yang sudah beraspal cukup bagus.

Perjalanan dari Kota Malang dan Kota Batu menuju Desa Gadingkulon bisa ditempuh melalui beberapa rute pilihan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Dari perempatan Dieng Plaza ke arah barat - Universitas Merdeka Malang - Perumahan Dieng - Pangkalan Mikrolet - Kalisongo - Petungsewu - Tegalweru - Pertigaan Dukuh Sempu ke kiri - Desa Gadingkulon - Dukuh Princi. Atau mungkin Anda bisa mencoba ruter dari Museum Brawijaya - Jl. Bondowoso - Jl. Tidar - Jl. Puncak Mandala - Jl. Puncak Yamin - Jl. Esberg - Pangkalan Mikrolet AT - Jl. Candi V D - Karangwidoro - Petungsewu - Tegalweru - Pertigaan Dukuh Sempu ke kiri - Desa Gadingkulon - Dukuh Princi. Bisa juga Anda melewati jalur dari jalan antar kota Malang-Batu - Pemandian Sengkaling ke barat - pertigaan Polsek Dau kiri - perempatan Semanding ke kiri - Asrama Putri Arrohmah - Dukuh Sempu lurus - Desa Gadingkulon - Dukuh Princi. Sedangkan, Anda yang dari Kota Batu silakan melalui jalur dari Batu Night Spectacular (Jl. Raya Oro-Oro Ombo) - Jl. Raya Tlekung - Jl. Raya Junrejo - Monumen Jun - Sumbersekar - Pertigaan Sumberseka Dau ke kanan - Gadingkulon belok ke kanan - Dukuh Princi.

Sesampainya di Dukuh Princi, yaitu dukuh paling barat Desa Gadingkulon, Anda dapat menitipkan kendaraan di rumah penduduk setempat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak naik turun bukit, menyisir jurang hingga lokasi Coban Parang Tejo berada.

Untuk mencapai lokasi coban ini tidaklah sulit. Dari perkampungan penduduk di Desa Gadingkulon, lokasinya hanya berjarak 1,5 kilometer. Sepanjang 1 kilometer bisa dilalui dengan kendaraan bermotor, tidak harus kendaraan jenis trail. Setelah menitipkan kendaraan, Anda harus menempuh 500 meter yang tersisa dengan berjalan kaki di jalan setapak menuju coban.

Perjalanan untuk mencapai lokasi Coban Parang Tejo ini cukup menyenangkan. Di sepanjang perjalanan, Anda bisa menikmati pemandangan indah perbukitan nan hijau kawasan hutan lindung di sisi kiri dan kanan jalan. Rimbunnya tanaman pinus dan pepohonan rimba yang cukup sejuk akan menemani perjalanan Anda. Meski perjalanan ini hanya butuh waktu kurang dari satu jam saja, Anda harus tetap berhati-hati untuk mencapai lokasi ini, karena sebagian jalanan setapaknya berbatasan langsung dengan jurang yang dalam.

COBAN JAHE (JABUNG)


Coban Jahe adalah salah satu destinasi alam yang wajib Anda kunjungi ketika melancong ke Malang. Coban, yang dapat diartikan air terjun ini, memiliki keunikan dan keindahan alam yang dijamin akan memanjakan mata pengunjungnya.

Sisi unik dari Coban Jahe sudah terlihat dari segi penamaannya. Kata 'Jahe' konon dulu diambil dari bahasa Jawa yaitu pejahe yang berarti 'meninggalnya'. Berdasarkan historinya, kata tersebut disematkan oleh penduduk sekitar bersamaan dengan peristiwa berdarah yang terjadi pada 1947, di mana pada saat itu terjadi bombardir tentara Belanda yang menggugurkan Pasukan TRI yang bernama Gagak Lodra. Menurut penduduk sekitar, jenazah para pejuang yang gugur di medan pertempuran saat itu dikumpulkan di sekitar air terjun yang kini dikenal dengan sebutan Coban Jahe.

Terlepas dari cerita sejarahnya, coban ini sangat menarik untuk dikunjungi. Lokasinya berada di Dukuh Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Wisata air ini berjarak kurang lebih 23 km dari Kota Malang bagian tenggara atau dapat ditempuh selama satu jam saja. Untuk dapat mengunjungi obyek yang lokasinya masuk dalam wilayah Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Malang yaitu Perhutani RPH Sukopuro, Jabung ini, Anda dapat menggunakan jalur dari Kecamatan Tumpang lalu ke kiri menuju Desa Sukopuro, Jabung. Tak begitu jauh dari gapura masuk Kecamatan Tumpang terdapat tanda petunjuk arah menuju obyek wisata Coban Jahe. Dari penunjuk arah ini, lokasi Coban Jahe masih sekitar 7 km lagi. Anda akan diarahkan untuk melintasi jalan desa yang cukup mulus, setelah itu terdapat persimpangan yang mungkin akan membuat Anda sedikit kebingungan, terlebih jika Anda baru pertama kali mengunjungi Coban Jahe ini. Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir, karena sejumlah penunjuk arah menuju Coban Jahe telah dipasang untuk memudahkan para wisatawan. Dari sekian banyak persimpangan, Anda hanya perlu mencari sebuah tugu yang bernama tugu Kemalon, yang menjadi penanda utama menuju destinasi alam tersebut.

Dari tugu Kemalon, Anda harus benar-benar siap menaklukan medan pegunungan yang licin, menanjak, dan berkelok. Jalan tanah ini akan dilalui kurang lebih 5 km. Di ujung jalan, Anda akan mendapati Taman Makam Pahlawan (TMP) yang bernama Kali Jahe. 50 meter setelah TMP tersebut, Anda dapat melihat pintu masuk Coban Jahe.

Menelusuri jalan setapak menuju air terjun, Anda harus sangat berhati-hati karena cukup licin walau cuaca cerah sekalipun. Kondisi ini terjadi karena jalan setapak yang berupa tanah tersebut lembab dan terdapat sumber air yang menggenang bahkan mengaliri sebagian jalan. Di sekitar lokasi sebelum mencapai obyek utama ini, Anda bisa melihat pohon mahoni yang cukup banyak.

Bagi Anda yang mengendarai kendaraan roda dua masih bisa memarkir kendaraan di dekat air terjun. Akan tetapi, apabila Anda membawa mobil, sangat sulit untuk mendekati coban. Anda dapat memarkirkan kendaraan di hamparan tanah kosong sekitar 100 meter dari pintu masuk tersebut selanjutnya harus berjalan kaki sampai ke lokasi.

Gemercik air terjun Coban Jahe dari tempat parkir sudah terdengar jelas. Di dekat air terjun ini juga terdapat tebing dengan kontur yang kasar dan melebar di bagian atasnya. Warnanya kuning kecoklatan seperti warna jahe menjadi warna yang dominan di tebing ini. Coban Jahe memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan batu-batu cadas berukuran raksasa di dinding dan kolam kecil di bawahnya. Udara di sekitarnya sangat sejuk, masih banyak pepohonan hijau yang menjadi peneduh alami di air terjun ini. Oleh karena itulah, air terjun ini masih tergolong sangat alami.

Jalur-jalur wisata alam yang dilengkapi dengan bumi perkemahan di kawasan Coban Jahe tersebut, rupanya menambah nilai plus di mata para pecinta alam, dan tentu bagi petualang yang suka akan wisata yang mampu menguji adrenalin. Kawasan Coban Jahe sendiri sangat ramai dikunjungi wisatawan khususnya pada Sabtu dan Minggu. Tarif masuknya pun sangat murah, hanya Rp 2.000 per orang.

COBAN TANGKIL (JABUNG)


Banyak air terjun di wilayah Malang Raya yang menantikan kedatangan wisatawan untuk ditaklukkan. Setiap air terjun itu memiliki tantangan masing-masing. Lalu, apa menariknya Wanawisata Coban Tangkil yang ada di Kecamatan Jabung?

Secara administratif, Wanawisata Coban Tangkil terletak di Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Lokasinya berada di kawasan Perhutani RPH Sukopuro Jabung. Lokasinya memang satu arah dengan jalan menuju Coban Jahe di kecamatan yang sama. Dari arah Kota Malang, jaraknya lebih kurang 30 km arah timur.

Coban ini terletak di antara pegunungan yang memisahkan Desa Pandansari Lor dan Desa Taji. Dari Kota Malang, silakan menuju Tumpang yang berada di sebelah timur pusat kota. Tak jauh setelah memasuki gapura Tumpang, terdapat sebuah pertigaan yang memiliki petunjuk arah bertuliskan ke kiri untuk menuju ke Coban Jahe. Dari pertigaan ini, jalan menuju ke Coban Jahe cukup baik untuk dilalui dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Pesona Wanawisata Coban Tangkil ini tampak masih alami, karena belum banyak pengunjung yang datang ke sini. Tempat ini memang belum dikelola secara profesional sebagai lokasi objek wisata andalan Kecamatan Jabung. Selain itu, karena medan menuju lokasi air terjun yang masih sulit dilalui, membuat wisatawan yang ingin berkunjung harus berpikir dua kali sebelum menaklukkan tantangan yang melelahkan. Sebenarnya, lokasi coban ini sangat menarik, terutama bagi mereka yang menggemari olahraga trekking menjelajah hutan dan jalan setapak.

Wanawisata Coban Tangkil terletak di atas aliran sungai kecil dari Coban Jahe yang jaraknya sekitar 3 km yang harus ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih satu jam. Terdapat jalan setapak berupa sungai kecil yang harus Anda taklukkan jika ingin mengintip keindahan Coban Tangkil. Jalur ini berupa jalan setapak yang naik turun yang cukup terjal.

Dari Taman Makam Pahlawan Kalijahe, Anda akan menemui sebuah pertigaan yang jika berjalan lurus akan menuju Coban Jahe, sedangkan jika berbelok akan menuju air terjun yang lain di kawasan ini. Selanjutnya, Anda akan melintasi jalan setapak yang sempit, namun di sepanjang perjalanan terdapat panorama alam yang eksotis yang memanjakan mata. Mulai dari perkebunan singkong, kopi dan aneka tanaman liar lainnya. Di tengah perjalanan menuju Coban Tangkil ini, Anda bisa mampir di beberapa air terjun lain, di antaranya Coban Mega dan Coban Dewi yang juga masih sangat alami.

Ketika melanjutkan perjalanan, Anda akan disambut dengan jalan yang naik turun dengan melewati beberapa bukit kecil. Di tengah perjalanan, sesekali akan terlihat ladang penduduk dan diiringi jurang curam di sisi jalan. Akan ada lebih banyak sungai-sungai kecil yang bisa disusuri tepiannya sebelum akhirnya sampai di Wanawisata Coban Tangkil nan eksotis. Jalur menyusuri sungai ini merupakan medan terberat untuk mencapai lokasi coban. Namun, mau tidak mau, Anda harus menaklukkannya, karena itulah satu-satunya jalan menuju ke lokasi air terjun. Kondisi jalannya sangat sempit, dan sepi karena jarang dilalui orang. Anda akan menemui beberapa jembatan yang terbuat dari bambu yang bisa dilewati.

Makin mendekati lokasi Coban Tangkil, kondisi medan sungai akan semakin berat ketimbang medan sungai sebelumnya. Sebab, sungai ini airnya lebih dalam dan mengandung batu-batu besar yang bertebaran di sepanjang aliran sungai. Anda harus berhati-hati jika melintasi di atas bebatuan ini, karena sangat licin. Untungnya, medan berat ini cukup pendek, sebelum akhirnya Ana sampai di lokasi Coban Tangkil.

Coban ini merupakan air terjun yang paling indah di wilayah Kecamatan Jabung. Air terjun ini menjulang cukup megah dengan ketinggian sekitar 100 meter. Yang menarik, aliran airnya tidak langsung jatuh ke bawah, karena tertahan oleh beberapa tebing yang agak menjorok di antara aliran air terjun. Pesona keindahan coban ini dijamin bakal membuat lelah pengunjung usai menaklukkan medan berat menjadi hilang. Maka, tunggu apa lagi? Ayok siapkan fisik dan mental Anda sebelum menerima tantangan menaklukkan medan Wanawisata Coban Tangkil.

COBAN KODOK (PUJON)


Tak ada salahnya melewatkan liburan dengan berwisata ke air terjun. Sebagai kota wisata, Kota Batu memiliki banyak pilihan objek wisata air terjun. Salah satunya adalah Coban Kodok yang menjanjikan sensasi menarik, kendati namanya masih asing di telinga.

Coban Kodok terletak sekitar 10 kilometer sebelah barat Kota Batu. Tepatnya, air terjun ini berada di Dusun Gumul, Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon, Kota Batu. Di lokasi ini terdapat dua air terjun, yakni Coban Kodok 1 dan Coban Kodok 2. Kedua air terjun tersebut terpisah sejauh 400 meter. Coban Kodok 1 memiliki ketinggian 70 meter, sedangkan Coban Kodok 2 hanya 30 meter tingginya.

Untuk mencapai Coban Kodok, jika dari atah Kota Batu/Kota Malang, silakan mengarahkan kendaraan Anda menuju ke Pujon, lalu menuju Desa Sukomulyo, hingga menuju ke Dusun Gumul. Jika dari arah Kediri, Anda bisa lewat rute Kandangan-Kasembon-Ngantang-Pujon-Sukomulyo. Sementara dari arah Blitar, Anda bisa mengambil rute Wlingi-Waduk Selorejo Ngantang-Pujon-Sukomulyo.

Sampai di Dusun Gumul, Anda bisa menitipkan kendaraan di rumah warga setempat. Lalu, Anda bisa melanjutkan perjalanan sesungguhnya menuju ke Coban Kodok dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer. Jangan malu-malu untuk bertanya kepada warga sekitar di manakah lokasi coban sesungguhnya agar tak tersasar. Usai trekking selama 20 menit, mata Anda akan terbelalak oleh pesona Coban Kodok 1. Jika puas menikmati coban tersebut, Anda bisa trekking kembali ke Coban Kodok 2 yang letaknya tak jauh dari lokasi coban yang pertama.

Tak seperti 'tetangganya', Coban Sumber Pitu, coban satu ini belum dikelola oleh siapa pun. Tak heran jika Anda masih mendapati kesan alami yang terasa kental pada Coban Kodok. Untuk itu, Anda disarankan untuk turut serta menjaga kelestariannya dengan tidak meninggalkan sampah. Anda juga disarankan agar tidak ambil apa pun dari lokasi coban ini selain foto.

Sebelum melakukan trekking, Anda harus menyiapkan fisik dan perbekalan terlebih dahulu. Selain itu, Anda juga wajib memerhatikan cuaca. Jika cuaca buruk, sebaiknya Anda menurungkan niat menyingkap keindahan Coban Kodok agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Anda pun harus menghormati peraturan warga lokal demi keselamatan bersama.

MLG-87 FANS